Strategi
merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan. Sebuah tujuan tidak akan
tercapai jika strategi yang direncanakan tanpa konsep dan analisa dilapangan
secara nyata. Pentingnya strategi bisa dijadikan sebagai landasan penerapan,
makanya penerapan strategi perlu dikaji
terlebih dahulu agar tujuan tercapai sesuai harapan. Waktu yang tepat untuk
sebuah strategi yaitu mengacu pada pengalaman. Apabila strategi belum mencapai
hasil yang maksimal maka itulah tugas kita untuk menganalisis kenapa strategi
itu tidak sesuai harapan. Setiap hasil yang tidak sesuai harapan maka perlu ada
perbaikan ditahapan strategi selanjutnya. Jangan berhenti pada satu level untuk
mengenal strategi, butuh ketelitian, kejelian, kesabaran demi sebuah tujuan
sesua harapan. Menjalani profesi seorang guru diera globalisasi tidaklah
semudah membalikan kedua telapak tangan. Seyogyanya seorang guru harus memiliki
strategi yang terkonsep, tersusun dan terencana berdasarkan pengalaman
pembelajaran pada setiap kelas dalam sebuah sekolah. Strategi pembelajaran merupakan perpaduan
dari urutan kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran peserta didik,
peralatan dan bahan, dan waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan Suparman (1997:157).
Berbagai kegiatan yang ada dalam strategi merupakan proses pengorganisasian
materi pelajaran secara teratur melalui peralatan, bahan dan waktu untuk sebuah
tujuan pembelajaran. Sehingga ketercapaian proses pembelajaran selaras dengan
strategi yang telah ditentukan sebelumnya. Kendati demikian seorang guru juga
harus memperhatikan efektivitas dan efisiensi waktu penerapan strategi dalam
proses pembelajaran terutama dalam mata pelajaran sejarah. Mata pelajaran
sejarah memang selalu menjadi buah bibir peserta didik dari masa kemasa, oleh
karena itulah guru sejarah harus memiliki strategi pembelajaran yang kreatif.
Salah satu fungsi dari strategi pembelajaran bagi guru sejarah yaitu untuk
menarik minat belajar peserta didik. Suatu nilai lebih untuk sebuah inovasi dan
kreatifitas jika seorang guru dapat menerapkan pembelajaran yang tidak hanya
menilai peserta didik dari sisi pengetahuan dan keterampilan saja, namun tidak
kalah penting juga harus memperhatikan sikap peserta didik ketika mengikuti
sebuah proses pembelajaran. Peran strategi pembelajaran menjadi pengikat
ketetapan seorang guru untuk menentukan kegiatan pada suatu kelas tertentu.
Setiap kelas dalam suatu sekolah memiliki tingkat daya serap yang berbeda-beda.
Pentingnya guru sejarah memahami sikap peserta didik dalam proses pembelajaran
sebagai bahan pertimbangan penerapan strategi pembelajaran. Metode pembelajaran
menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah strategi. Pemilihan
metode yang tepat guna untuk mata pelajaran sejarah haruslah dipilih
berdasarkan kemampuan peserta didik pada setiap kelasnya. Dari berbagai
kemampuan yang berbeda itulah, seorang guru sejarah harus selektif memilah setiap
minat belajar peserta didik dalam sebuah kelas. Dari pemilahan minat belajar
peserta didik itulah seorang guru
sejarah harus mengorganisir kegiatan pembelajaran bagi mereka peserta didik
yang belum muncul minat belajarnya dengan baik. Hal ini penting dilakukan agar
kesamaan persepsi bahwa belajar sejarah juga memiliki daya tarik jika dikemas
dengan strategi dan metode yang terencana dengan baik. Agar lebih menarik minat
belajar peserta didik, seorang guru sejarah tidak harus terpaku pada materi
pokok pembelajaran berdasarkan indikator ketercapaian. Perhatikanlah minat
belajar peserta didik sebagai bahan tolok ukur keberhasilan kompetensi pembelajaran.
Tolok ukur guru dalam menilai keberhasilan siswa pada kompetensi pembelajaran
tidak bisa diukur hanya dengan nilai diatas kriteria ketuntasan minimal
berdasarkan hasil ulangan harian dan test saja. Akan tetapi nilai sikap menjadi
bahan pertimbangan guru berdasarkan pengamatan selama peserta didik mengikuti
proses pembelajaran baik dalam kelas maupun luar kelas. Penerapan strategi
pembelajaran dalam sebuah metode di Madrasah Tsanawiyah Negeri Majenang
Kabupaten Cilacap, guru sejarah menggunakan metode sederhana namun harapannya
memiliki kesan positif. Penerapan metode yang saya terapkan di Madrasah
Tsanawiyah Negeri Majenang Kabupaten Cilacap dipilah kedalam tiga metode yaitu Jigsaw
(Model Tim Ahli), Problem Based Introduction (PBI), Rolle
Playing. Ini saya lakukan berdasarkan pengamatan selama satu bulan sebelumnya
ketika menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran di bulan juni 2017. Pemilahan
tingkat kemampuan dan minat belajar peserta didik juga harus dilakukan agar
tidak merasa terbebani dengan serangkaian kegiatan dalam proses pembelajaran.
Disamping itu pemilahan metode pembelajaran yang berbeda dari masing-masing
kelas bertujuan untuk mempermudah guru memantau daya serap peserta didik
Madrasah Tsanawiyah Negeri Majenang Kabupaten Cilacap. Berikut ini gambaran
pemilahan metode pembelajaran dari masing-masing kelas :|
Jigsaw
(Model Tim Ahli)
|
Problem
Based Introduction (PBI)
|
Rolle Playing
|
|
Kelas
|
Kelas
|
Kelas
|
|
8A, 8F, GG,
8H
|
8B, 8G, 8F,
8H
|
8A
|
|
9A, 9E, 9F,
9B, 9H
|
9C, 9D, 9C,
9G
|
9F
|
|
Langkah-langkah
:
1.
Siswa dikelompokan
2.
Tiap orang dalam tim diberi bagian materi
yang berbeda
3.
Tiap orang dalam tim diberi bagian materi
yang ditugaskan
4.
Anggota dari tim yang berbeda yang telah
mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok
ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
5.
Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap
anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim
mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya
mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.
Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.
Guru memberi evaluasi
8.
Penutup
|
Langkah-langkah
:
1. Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan.
Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru
membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru
mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis,
pemecahan masalah.
4. Guru
membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
5. Guru
membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
|
Langkah-langkah
:
1.
Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan
ditampilkan.
2.
Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari
skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar
Mengajar.
3.
Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya
10 orang.
4.
Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang
ingin dicapai
5.
Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk
untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
6.
Masing-masing siswa berada di kelompoknya
sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan.
7.
Setelah selesai ditampilkan, masing-masing
siswa diberikan lembar kerja untuk membahas/memberi penilaian atas penampilan
masing-masing kelompok.
8.
Masing-masing kelompok menyampaikan hasil
kesimpulannya.
9.
Guru memberikan kesimpulan secara umum.
10. Evaluasi.
11. Penutup.
|
Ketiga metode pembelajaran ini sudah
disampaikan teknik, simulasinya dan waktu pelaksanaan pada setiap kelas pada
bulan Juli 2017. Penyampaian informasi secara tekhnis, terperinci memberikan
harapan agar seluruh peserta didik pada setiap kelasnya memahami betul apa yang
harus dilakukan dan peranannya dalam hal apa. Pelaksanaan dari penerapan metode
pembelajaran jigsaw, PBI dan Rolle Playing dilaksanakan pada rentan Awal bulan
September, Oktober dan November 2017. Memberikan pengarahan tentang metode
pembelajaran sudah pasti dilakukan kepada seluruh peserta didik Madrasah
Tsanawiyah Negeri Majenang Kabupaten Cilacap. Bimbingan dan arahan bertujuan
untuk mendapatkan hasil yang sesuai harapan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Materi yang dipilih dari ketiga metode pembelajaran tersebut diatas yaitu untuk
kelas 8 ilmuwan muslim pada masa dinasti abbasiyah. Sedangkan untuk kelas 9
yaitu kerajaan islam nusantara dan tokoh penyebar agama Islam di Nusantara.
Pemilihan materi pembelajaran sangat penting dilakukan ole guru sejarah karena
tidak semua materi pembelajaran bisa menggunakan ketiga metode ini. Jadi
pemilihan materi pembelajaran sangat tepat jika menggunakan ketiga metode pembelajaran
tersebut diatas.
Peneraan ketiga metode pembelajaran tersebut pada suatu sekolah sudah pasti ada.
Untuk mengetahui seberapa jauh minat belajar siswa dengan menggunakan metode
pembelajaran, maka disini saya menyajikan data dalam bentuk diagram batang atau
disebut juga diagram balok. Diagram batang digunakan untuk menyajikan data yang
bersifat kategori atau data distribusi Riduwan (2003:94). Memilih penyajian
data dalam bentuk diagram dirasa cukup memberikan informasi yang dibutuhkan
oleh penggunanya yaitu guru sejarah dan dapat diperoleh secara mudah dan cepat
berdasarka tabel-tabel sebelumnya. Namun karena melalui proses bimbingan dan
arahan kepada seluruh kelompok pada setiap kelasnya lebih terperinci, sehingga
memudahkan para peserta didik untuk memahami apa yang harus dilakukan. Dari
ketiga metode yang diterapkan selama satu semester di tahun pelajaran 2017/2018
menghasilkan minat belajar yang sangat membanggakan bagi guru sejarah. Berdasarkan
angket yang disebar kepada seluruh peserta didik kelas 8 dan kelas 9 Madrasah
Tsanawiyah Negeri Majenang dapat dilihat dari diagram dibawah ini. 

Berdasarkan tabel diagram diatas maka
dapat diperoleh informasi bahwa secara umum minat belajar siswa untuk mengikuti
proses pembelajaran pada mata pelajara sejarah di Madrasah Tsanawiyah Negeri
Majenang Kabupaten Cilacap sangat signifikan dengan menggunakan metode
pembelajaran jigsaw, PBI dan Rolle Playing. Perbandingan secara nyata
dilapangan berdasarakan hasil penyajian data kedalam bentuk diagram batang
bahwa antara peserta didik yang aktif dan pasif berbanding jauh hasilnya. Namun
sebetulnya penyajian data tersebut diatas hanya bersifat rasa ingin tahu
tentang minat belajar siswa terhadap penerapan metode pembelajaran pada mata
pelajaran sejarah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Majenang Kabupaten Cilacap.
Dengan demikian penerapan metode pembelajaran pada semester gasal tahun
pelajaran 2017/2018 sudah sesuai harapan. Keberhasilan ini hanya untuk mengukur
seberapa suksesi antara rencana dan harapan dalam penerapan metode
pembelajaran. Hasilnya berkesan atau tidak bagi guru itu sudah pasti,
berdasarkan penyajian data berbentuk diagram itulah sebagi salah satu bukti
bahwa guru yang kreatif berdampak pada siswa aktif.